Berani bermimpi, begitulah makna yang kutangkap dari novel tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kisah hidupnya yang memukau dalam untaian novel setebal ratusan halaman lahap kubaca, tak ingin jeda. Akhir pekan ini kugunakan waktuku semua untuk menuntaskan novel yang luar biasa ini.
Mengenai impian, secara sadar atau tidak sering akan menjadi kenyataan dalam hidup. Setidaknya itu yang kualami.
Dahulu sekali, sebelum aku membaca buku Berpikir dan Berjiwa Besar karya David J Schwartz, aku sering membaca buku buku milik Oom yang banyak bertumpun di lemari kayu buatan sendiri, lemari yang dibuat tanpa seni sama sekali, tidak diketam supaya halus, apalagi dicat. Namun lemari atau tepatnya rak buku raksasa tersebut sangatlah kokoh, berukuran panjang dua meter, tinggi satu setengah meter, serta kedalaman setengah meter. Disitulah buku buku milik Ibuku dan saudara saudaranya yang berjumlah sembilan orang disimpan. Aku tidak ingat apa judul buku itu, tapi rasanya seperti buku pelajaran anak SD, tebakanku itu buku Bahasa Indonesia. Buku tersebut memuat banyak sekali cerita, dari cerita Malin Kundang, Budaya dan Negeri Minangkabau, sampai cerita shock culture orang kota yang berlibur ke pedalaman Mandailing.
Ada lagi buku yang kupinjam di perpustakaan waktu SD, judul bukunya kalau tidak salah Terompah Usang yang Sudah tak Terpakai Lagi, agak lupa lupa ingat, tapi yang pasti ada kalimat Terompah Usang. Di buku tersebut semua kisah hampir mengenai tanah minang dan sekitarnya, dari buku buku tersebutlah mulai terbayang di kepalaku bentuk rumah orang Minang seperti yang ada di koin perak Rp 100 waktu aku kecil.
Ada satu kata dalam bahasa Mandailing “babiat” dalam satu cerita di buku yang aku baca, masih aku ingat jelas sampai sekarang. Arti kata babiat adalah basah atau berair dalam bahasa Padang (kalau gak salah), dan berarti harimau dalam bahasa Mandailing. Ceritanya orang padang berlibur ke Mandailing, dan diajak ke kebun oleh teman temannya. Karena masih pagi dan banyak embun maka keluarlah kata babiat dari mulut orang padang, sontak orang Mandailing terkejut dan lari pontang panting karena dikira teman dari kota nya melihat harimau. Begitulah, cerita di buku lebih lucu dan aku belum bisa menceritakan sebaik di buku tersebut.
Singkat cerita, aku telah tamat STM. Rencana sebelumnya ingin merantau ke Jakarta dimana Oomku buka bengkel mobil, tapi karena sudah tiga bulan sejak tamat STM Oom aku tidak ada menghubungi, maka aku tidak bisa berkutik. Pada saat itu awal tahun 1998, dimana reformasi sedang mulai dikumandangkan di kampus kampus. Mungkin bengkel Oom aku terkena imbas krisis moneter sehingga tidak bisa mempekerjakan aku. Maka karena sudah muak jadi pengangguran di kampung, akhirnya aku berangkat ke Padang, tempat adik laki laki ibuku bekerja.
Read the rest of this entry »